Translate

Kamis, 13 Oktober 2016

Belajar Tentang Kata

Pengertian Kata[sunting]

Kata adalah kumpulan beberapa huruf yang memiliki makna tertentu. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi morfem yang dianggap sebagai bagian terkecil dari kalimat. Sedangkan morfem sendiri adalah bagian terkecil dari kata yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi ke bentuk yang lebih kecil.

7 Kelas Kata[sunting]

Kata Benda (Nomina)[sunting]

Kata benda (nomina) adalah kata-kata yang merujuk pada bentuk suatu benda, bentuk benda itu sendiri dapat bersifat abstrak ataupun konkret.dalam bahasa Indonesia kata benda (nomina) terdiri dari beberapa jenis, sedangkan dari proses pembentukannya kata benda terdiri dari 2 jenis, yaitu :
  1. Kata Benda (Nomina) Dasar: Kata benda dasar atau nomina dasar ialah kata-kata yang yang secara konkret menunjukkan identitas suatu benda, sehingga kata ini sudah tidak bisa lagi diuraikan ke bentuk lainnya. Contoh : buku, meja, kursi, radio, dll.
  2. Kata Benda (Nomina) Turunan: Nomina turunan atau kata benda turunan ialah jenis kata benda yang terbentuk karena proses afiksasi sebuah kata dengan kata atau afiks. Proses pembentukan ini terdiri dari beberapa bentuk, yaitu :
    1. Verba + (-an) contoh: Makanan.
    2. (Pe-) + Verba contoh: Pelukis.
    3. (Pe-) + Adjektiva contoh: Pemarah, Pembohong.
    4. (Per-) + Nomina + (-an) contoh: Perbudakan.

Kata Kerja (Verba)[sunting]

Kata kerja atau verba adalah jenis kata yang menyatakan suatu perbuatan. Kata kerja dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
  1. Kata Kerja Transitif: Kata kerja transitif merupakan kata kerja yang selalu diikuti oleh unsur subjek, contoh : membeli, membunuh memotong, dll. Dilihat dari segi bentuknya kata kerja transitif dapat dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu: Kata kerja transitif berimbuhan dan kata kerja transitif tak berimbuhan.
  2. Kata Kerja Intransitif: Kata kerja intransitif ialah kata kerja yang tidak memerlukan pelengkap. Seperti kata tidur untuk contoh kalimat berikut: saya tidur, pada kalimat tersebut kata tidur yang berposisi sebagai predikat (P) tidak lagi diminta menerangkan untuk memperjelas kalimatnya, karena kalimat itu sudah jelas.
Di dalam Bahasa Indonesia ada 2 dasar dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena telah memiliki makna, dan bentuk dasar yang berafiks atau turunan. dari bentuk verba ini dapat dibedakan menjadi :
  1. Verba Dasar Bebas: ialah verba yang beruba morfem dasar bebas, misalnya: duduk, makan, mandi, minum, dll.
  2. Verba Turunan: ialah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem.
Beberapa bentuk verba turunan :.......................................
  1. Verba berafiks : berbuatterpikirkan, dll.
  2. Verba bereduplikasi : bangun-banguningat-ingat, dll.
  3. Verba berproses gabungan : bernyanyi-nyanyitersenyum-senyum, dll.
  4. Verba majemuk : cuci matacuci tangan, dll.

Kata Sifat (Adjektifa)[sunting]

Kata sifat ialah kelompok kata yang mampu menjelaskan atau mengubah kata benda atau kata ganti menjadi lebih spesifik. Karena kata sifat mampu menerangkan kuantitas dan kualitas dari kelompok kelas kata benda atau kata ganti.

Ciri-ciri Kata Sifat[sunting]

  1. Kata sifat terbentuk karena adanya penambahan imbuhan ter- yang mengandung makna paling.
  2. Kata sifat dapat diterangkan atau didahului dengan kata lebihagakpalingsangat & cukup.
  3. Kata sifat juga dapat diperluas dengan proses pembentukan seperti ini : se- + redupliasi (pengulangan kata) + -nya, contoh : sehebat-hebatnyasetinggi-tingginya, dll.

Beberapa Proses Pembentukan Kata Sifat[sunting]

  1. Kata sifat yang terbentuk dari kata dasar, misalnya: kuat, lemah, rajin, malas, dll.
  2. Kata sifat yang terbentuk dari kata jadian, misalnya: terjelek, terindah, terbodoh, dll.
  3. Kata sifat yang terbentuk dari kata ulang, misalnya: gelap-gulita, pontang-panting, dll:
  4. Kata sifat yang terbentuk dari kata serapan, misalnya: legal, kreatif, dll.
  5. Kata sifat yang terbentuk dari kata atau kelompok kata, misalnya: lapang dada, keras kepala,baik hati, dll.

Kata Ganti (Pronomina)[sunting]

Kelompok kata ini dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan. Kelompok kata ini dapat dibedakan menjadi 6 bentuk, yaitu:
  1. Kata Ganti Orang: ialah jenis kata yang menggantikan nomina. Kata ganti orang dapat dibedakan lagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:
    1. Kata ganti orang pertama tunggal, misal: aku, saya.
    2. Kata ganti orang pertama jamak, misal: kami, kita.
    3. Kata ganti orang kedua tunggal, misal: kamu, Anda, kau/engkau.
    4. Kata ganti orang kedua jamak, misal: kamu, kalian.
    5. Kata ganti orang ketiga tunggal, misal: dia, ia, beliau.
    6. Kata ganti orang ketiga jamak, misal: mereka.
  2. Kata Ganti Kepemilikan: ialah kata ganti yang dipakai untuk menyatakan kepemilikan, misal: “buku kamu/bukumu”, “buku aku/bukuku”, “buku dia/bukunya”,dsb.
  3. Kata Ganti Penunjuk: ialah kata ganti yang dipakai untuk menunjuk suatu tempat atau benda yang letaknya dekat ataupun jauh, misal: “di sini”, “di sana”, “ini”, “itu”, dsb.
  4. Kata Ganti Penghubung: ialah kata ganti yang digunakan untuk menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat kata yang dipakai yaitu: “yang”, “tempat”,”waktu”.
  5. Kata Ganti Tanya: ialah kata ganti yang dipakai untuk meminta informasi mengenai sesuatu hal, kata Tanya yang dimaksud ialah “apa”, “siapa”, “mana”.
  6. Kata Ganti Tak Tentu: ialah kata ganti yang digunakan untuk menunjukkan atau menggantikan suatu benda atau orang yang jumlahnya tak menentu (banyak), misal: masing-masing, sesuatu, para, dsb.

Kata Keterangan (Adverbia)[sunting]

Kata keterangan adalah jenis kata yang memberikan keterangan pada kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan bahkan mampu memberikan keterangan pada seluruh kalimat. Kata keterangan dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Kata Keterangan Tempat: ialah jenis kata yang memberikan informasi mengenai suatu lokasi, misal: di sini, di situ, dll.
  2. Kata Keterangan Waktu: ialah jenis keterangan yng menginformasikan berlangsungnya sesuatu dalam waktu tertentu, misal: sekarang, nanti, lusa, dll
  3. Kata Keterangan Alat: ialah jenis kata yang menjelaskan dengan cara apa sesuatu itu dilakukan ataupun berlangsung, misal: “dengan tongkat”, “dengan motor”, dll.
  4. Kata Keterangan Syarat: ialah kata keterangan yang dapat menerangkan terjadinya suatu proses dengan adanya syarat-syarat tertentu, misal: jikalau, seandainya, dll.
  5. Kata Keterangan Sebab: ialah jenis kata yang memberikan keterangan mengapa sesuatu itu dapat terjadi, misal; sebab, karena, dsb.

Kata Bilangan (Numeralia)[sunting]

Kata bilangan ialah jenis kelompok kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, urutan sesuatu yang dibendakan. Kata bilangan juga dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Kata bilangan tentu, contoh: satu, dua, tiga, dst.
  2. Kata bilangan tak tentu, contoh: semua, beberapa, seluruh, dll.
  3. Kata bilangan pisahan, contoh: setiap, masing-masing, tiap-tiap.
  4. Kata bilangan himpunan, contoh: berpuluh-puluh, berjuta-juta.
  5. Kata bilangan pecahan, contoh: separuh setengah, sebagian, dll.
  6. Kata bilangan ordinal/giliran, contoh: pertama, kedua, ketiga, dst.

Kata Tugas[sunting]

Kata tugas ialah kata yang memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Kata tugas juga memiliki fungsi sebagai perubah kalimat yang minim hingga menjadi kalimat transformasi. Dari segi bentuk umumnya, kata-kata tugas sukar mengalami perubahan bentuk. Kata-kata seperti : dengantelahdantetapi dan sebagainya tidak bisa mengalami perubahan. Tapi, ada sebagian yang bisa mengalami perubahan golongan kata ini jumlahnya sangat terbatas, misalnya: tidak,sudah kedua kata itu dapat mengalami perubahan menjadi menidakkan & menyudahkan.

Ciri-ciri Kata Tugas[sunting]

Ciri dari kata tugas ialah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Jika verba datang dapat diturunkan menjadi mendatangi,mendatangkan & kedatangan. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab & sampai tetapi dari nomina sebabdan verba sampai yang membentuknya sama tapi kategorinya berbeda.

Jenis-jenis Kata Tugas[sunting]

  • Preposisi (kata depan): ialah jenis kata yang terdapat di depan nomina (kata benda), misalnya : dari, ke & di. Ketiga kata depan ini dipakai untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat. Contoh : Di Jakarta, di rumah, ke pasar, dari kantor.
  • Konjungsi (kata sambung): ialah jenis kata yang dapat menggabungkan 2 satuan bahasa yang sederajat, misalnya : dan, atau & serta. Jenis kata tugas yang mampu menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Konjungsi (kata sambung) dapat dibagi menjadi 4, yaitu:
  1. Konjungsi Koordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 unsur atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama contoh: danatau &serta.
  2. Konjungsi korelatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 kata, frasa atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi korelatif rerdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan oleh : baik .... maupun, tidak .... tetapi.
  3. Konjungsi Antarkalimat: yaitu konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi jenis ini selalu membuat kalimat baru, tentu saja dengan huruf kapital di awal kalimat. Contoh : Biapun begitu, akan tetapi ....
  4. Konjungsi Subordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 klausa atau lebih dan klausa itu merupakan anak kalimat. Konjungsi ini terbagi lagi menjadi 12 kelompok, yaitu:
    1. Konjungsi subordinatif waktu : sejak, semenjak, sedari, sewaktu.
    2. Konjungsi subordinatif syarat : jika, jikalau, bila, kalau.
    3. Konjungsi subordinatif pengandaian : seandainya, seumpama.
    4. Konjungsi subordinatif konsesif : biarpun, sekalipun.
    5. Konjungsi subordinatif pembandingan : seakan-akan, seperti.
    6. Konjungsi subordinatif sebab : sebab, karena, oleh sebab.
    7. Konjungsi subordinatif hasil : sehingga, sampai.
    8. Konjungsi subordinatif alat : dengan, tanpa.
    9. Konjungsi subordinatif cara : dengan, tanpa.
    10. Konjungsi subordinatif komplementasi : bahwa.
    11. Konjungsi subodinatif atribut : yang
    12. Konjungsi subordinatif perbandingan : sama ... dengan, lebih ... dari.
  • Artikula (kata sandang): ialah jenis kata yang mendampingi kata benda atau yang membatasi makna jumlah orang atau benda. Kata sandang tidak mengandung suatu arti tapi memiliki fungsi. Fungsi kata sandang sendiri ialah untuk menentukan kata benda, mensubstansikan suatu kata yang besaryang jangkung, dan lain-lain. Kata-kata sandang umum yang terdapat dalam Bahasa Indonesia ialah yangitu-nyasisanghangdang. Kata-kata sandang sepertisanghangdang banyak ditemui dalam kesusastraan lama, sekarang sudah tidak terpakai lagi terkecuali kata sandang sang. Kata sandang sang terkadang masih dipergunakan untuk mengagungkan atau untuk menyatakan ejekan maupun ironi. Dalam Bahasa Indonesia terdapat beberapa kelompok artikula, yaitu:
  1. Artikula yang bersifat gelar ialah artikula yang bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis artikula yang bersifat gelar : sang, hang, dang, sri.
  2. Artikula yang mengacu ke makna kelompok / makna korelatif ialah kata para. Karena artikula ini bermakna ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai ialah para gurubukan para guru-guru.
  3. Artikula yang menominalkan. Artikula si yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, tergantung pada konteks kalimat.
  • Interjeksi (kata seru): ialah kata yang mengungungkapkan perasaan. Macam-macam kata seru yang masih dipakai hingga sekarang ialah :
  1. Kata seru asli, yaitu : ah, wah, yah, hai, o, oh, nah, dll.
  2. Kata seru yang berasal dari kata-kata biasa, artinya kata seru yang berasal dari kata-kata benda atau kata-kata lain yang digunakan, contoh : celaka, masa', kasihan, dll.
  3. kata seru yang berasal dari beberapa ungkapan, baik yang berasal dari ungkapan Indonesia maupun yang berasal dari ungkapan asing, yaitu : ya ampun, demi Allah, Insya Allah, dll.
  • Partikel Penegas: ialah kategori yang meliputi kata yang tidak tunduk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas, yaitu: -lah-kah-tah & pun.

Sumber: https://id.wikibooks.org/wiki/Subjek:Bahasa_Indonesia/Materi:Kata

Perbedaan In On At Pada Penggunaan Dalam Bahasa Inggris

Cara Belajar Bahasa Inggris Oke – Perbedaan In On At Pada Penggunaan Dalam Bahasa Inggris. Bahkan untuk seorang native speaker atau bule yang sudah belajar bahasa inggris dari kecil akan bingung mengenai perbedaan penggunaan preposisi ketiga kata ini. Baik preposisi in, on, at memang membingungkan untuk dipelajari apalagi untuk para beginner atau pemula, mereka cenderung memakai kata depan dengan sembarang dan yang mana yang enak didengar saja. Hal itu wajar, karena guru bahasa inggris di sekolah jarang yang mengajarkan tentang perbedaan in, on, dan at ini. Jadi wajarlah dalam penggunaannya masih ditemukan beberapa kekeliruan.
Karena itu saya akan mencoba untuk menjelaskan perbedaan in on at pada penggunaan dalam bahasa inggris. Artikel ini akan mencoba untk mencoba semua pertanyaan tentang ketiga conoth kata depan atau preposition ini. Memang gampang-gampang sulit untuk belajar tentang hal ini. Tapi jika kita melihat, belajar, dan memahaminya dengan seksama maka perbedaan akan kamu kuasai. Sebenarnya jika kamu sering mendengar native speaker melakukan percakapan bahasa inggris dan juga membaca artikel tentang bahasa inggris. Kamu akan menguasai dan terbiasa dalam melihat perbedaan dan penggunaan preosisi ini. Namun, untuk mempermudah dan mempercepat kamu untuk menguasai ini saya akan membantu dengan penjelasan yang sudah dikumpulkan dari berbagai sumber. Langsung saja yuk kita lihat perbedaan penggunaan in, on, at dalam bahasa inggris.

Perbedaan In On At Pada Penggunaan Dalam Bahasa Inggris

Inti dari perbedaan antara ketiga preposisi ini dibagi menjadi 2 hal penting. Yang pertama adalah perbedaan dalam waktu. Dan yang kedua adalah tentang lokasi. Selain kedua hal penting itu, Saja juga akan memberikan contoh kapan kita harus menggunakan preposition in, on, at. Langsung saja kita simak penjelasan dibawah ini.
1. Waktu
Perhatikan tiga contoh kalimat dibawah ini :
– Junaedi was born in 1994.
– Junaedi was born on July 15th.
– Junaedi was born at 9:15 AM.
Jika kalian melihat ketiga contoh kalimat diatas kalian akan dapat mengerti dimana perbedaannya. Hal itu dikarenakan beda penggunaan yang terlihat sangat kontras sekali. Berikut penjelasannya mengapa ketiga kalimat tersebut bisa berbeda.

In
Dalam konteks waktu, kata depan in digunakan untuk menjelaskan waktu yang general atau memiliki cakupan yang besar. Seperti di contoh kalimat diatas. Jika menjelaskan hanya nama tahun, maka lebih baik memilih in ketimbang on atau at. Kata depan in juga digunakan ketika kita berbicara abad, bulan, morning, afternoon, evening.
On
Pada konteks waktu, kata on digunakan untuk menjelaskan waktu yang lebih spesifik dari kata in. Karena kita harus menggunakan on jika menjelaskan suatu tanggal. Logikanya suatu tanggal pasti tingkatannya lebih spesifik dibandingkan dengan tahun. Selain itu on juga digunakan pada hari dalam satu minggu seperti, on Sunday, on Saturday, on Wednesday.
At
Untuk kata depan yang terakhir ini, dalam konteks waktu digunakan untuk waktu yang paling spesifik. Misalnya seperti waktu dari sesuatu yang terjadi. Logikanya waktu kejadian itu lebih spesifik dibandingkan dengan tanggal atau tahun dari suatu kejadian.
2. Place atau lokasi
Perhatikan 3 contoh kalimat dibawah ini
– Rissa lives in Bandung.
– Rissa lives on Dago Street.
– Rissa lives at 25th Dago Street.
Dimanakah letak perbedaan antara ketiga kalimat diatas? Sudah terlihat kontras sekali saya kira. Perbedaan ketiganya adalah ruang lingkup letak dari suatu tempatnya. Lihat dengan seksama penjelasannya berikut ini.
In
Dalam konteks tempat atau lokasi. Kata in mempunyai ruang lingkup yang sangat general atau besar. karena hanya menjelaskan diman Rissa tinggal tapa adanya penjelasan terperinci. In dalam menjelasakan suatu tempat atau lokasi juga digunakan pada benua, negara, area, provinsi, dan tempat lainnya dalam konteks secara general.
On
Berbeda dengan in, kata depan on digunakan untuk contoh yang sedikit terperinci. Dalam kalimat diatas digunakan pada nama jalan tanpa nomor. Karena nama jalan lebih terperinci jika dibandingkan dengan nama kota yang lebih general. Kata on juga digunakan untuk nama pulau, sungai, pantai.
At
Dan yang terakhir adalah kata at. Jika kita ingin menjelaskan suatu nama jalan dengan nomor atau alamat lengkap maka harus menggunakan preposisi at. Hal itu dikarenakan at digunakan untuk suatu yang lebih terperinci dari kedua preposisi in dan on.
Perhatikan contoh kalimat yang berikutnya dibawah ini:
– Ronal was in cinema.
– Ronal was on cinema.
– Ronal was at cinema.
Gimana? Semua kalimat hampir telihat sama bukan. Tidak ada yang salah dari kalimat diatas. Namun bagi yang belum mengerti pasti akan menganggap ketiganya memiliki arti yang sama. Namun ketiga contoh kalimat ini memiliki arti berbeda. Lalu dimanakah letak perbedaannnya?
In
Jika kamu berbicara dengan native speaker “Ronal was in cinema” maka ang ada dipikiran merka adalah “Ronal ada didalam bioskop atau cinema”. Tidak masalah Ronal didalam mau nonton film atau tidak. yang terpenting adalah letak Ronal yang berada didalam bioskop.
On
Berbeda jika kamu bilang “Ronal was on cinema” maka yang kamu maksudkan adalah “Ronal ada diatas bioskop” atau “Ronal adalah artis yang bermain di film bioskop”.
At
Jika kamu bilang “Ronal was at cinema” maka bagi orang yang mendengar akan berpikir “Ronal ada diluar bioskop” atau “Ronal berada di sekitar atau didekat bioskop”. Tempat bioskop hanya digunakan sebagi acuan atau referensi saja.
Itulah perbedaan penggunaan in on at dalam bahasa inggris yang sudah saya jelaskan. Semoga dengan mengetahui perbedaan antara ketiga preposisi ini kalian jadi mengerti bagamana cara penggunaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: http://www.carabelajarbahasainggrisoke.com/2014/09/perbedaan-in-on-at-pada-penggunaan-dalam-bahasa-inggris.html

Kamis, 24 April 2014

PENTINGKAH PSIKOTES DAN ASSESSMENT ITU?

Psikotes atau Assessment biasanya menjadi momok yang menakutkan bagi para pencari kerja. Kenapa bisa demikian? Analisa saya menganggap karena para pencari kerja merasa bahwa psikotes atau assessment adalah faktor utama mereka tidak lolos dalam proses rekrutmen di suatu perusahaan.

Psikotes ataupun assessment merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi sebagian perusahaan di Indonesia dalam melakukan perekrutan untuk karyawan baru ataupun untuk melakukan promosi bagi karyawan yang sudah bekerja ditempat mereka. Lalu kenapa ada perusahaan yang menggunakan psikotes dan assessment ini di dalam proses rekrutmen ataupun promosi jabatan? Jawaban saya ada 2, yaitu karena ikut-ikutan dan memang mau melihat potensi yang ada pada subjek yang di psikotes atau assessment tersebut. Lalu kenapa juga banyak perusahaan yang tidak melakukan kedua hal tersebut? Jawaban saya adalah mungkin karena perusahaan tersebut belum melihat manfaat yang di dapat dari melakukan kedua hal itu. Atau memang kebutuhan sumber daya manusia yang banyak dan cepat untuk memenuhi posisi yang perusahaan tersebut cari.

Nah bagaimana pendapat saya sendiri sebagai Sarjana Psikologi? Oia, hanya sekedar info ya. S1 Psikologi itu namanya Sarjana Psikologi bukan Psikolog. Nah bedanya apa? Ya jelas beda, yang satu lulusan S1 doang dan yang satunya lagi S2 Profesi. Dan S2 Profesi berbeda juga lho dengan S2 Saint Psikologi. Bedanya (kalau belum berubah lagi) adalah kalau S2 Profesi sudah pasti lulus jadi Psikolog dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang S3, nah kalau S2 Saint Psikologi boleh ambil S3 tapi pas lulus S2 belum menjadi Psikolog dan juga S2 Profesi harus berasal dari S1 Psikologi sedangkan jika S2 Saint Psikologi boleh berasal dari S1 jurusan apa saja.

Waduh panjang jelasin tentang penyebutan title di bidang psikologi sampai lupa jawab pertanyaan tentang bagaimana pendapat saya sebagai Sarjana Psikologi tentang Psikotes dan Assessment. Baiklah kalau saya ditanya penting atau tidak saya saat ini menjawab penting. Nah loh kenapa saat ini? Ya karena pas dulu kuliah saya menganggap psikotes gak terlalu penting karena masa sifat manusia bisa dilihat oleh alat buatan manusia, sedangkan psikologi sendiri melihat manusia sebagai makhluk Tuhan yang unik. Lalu kenapa sekarang saya bilang penting? Ya karena tambahnya pemahaman saya tentang alat tes psikologi, tentang manusia itu sendiri, dan karena kerjaan saya bergelut dibidang rekrutmen.

Baik sekarang kita bahas kenapa Psikotes atau Assessment itu penting dilakukan. Oia kalau ada yang bertanya psikotes itu kan yang buat dari luar negeri, tapi kok diluar negeri psikotes gak dipakai untuk rekrutmen karyawan? Jawaban saya untuk pertanyaan ini adalah tidak tahu karena saya belum pernah melamar kerja diluar negeri dan kalau dari film, yang saya lihat adalah mereka memang tidak melakukan psikotes untuk melakukan rekrutmen dan juga metode mereka untuk melihat kepribadian orang lain sangat banyak. Jadi intinya diluar negeri pun mereka ingin tahu tentang kepribadian individu walau bukan dengan psikotes. Dan ini juga alasan saya kenapa Psikotes dan Assessment penting dilakukan karena kita bisa melihat karakter individu lain.

Lalu pertanyaan lain muncul, yaitu seberapa besar kebenaran dari hasil psikotes ini. Nah kalau ini saya bilang relatif tergantung mereka yang menganalisa tes-tes yang dikerjakan atau diselesaikan oleh tester (orang yang dites). Kok bisa begitu? Ya karena jam terbang para penganalisa itu dan juga seberapa luas pengetahuannya. Jadi gak valid dong? Ya intinya secara garis besar kita memiliki gambaran umum tentang karakter orang atau individu yang kita tes tersebut, dan kenapa saya bilang begitu karena tidak ada ilmu pengetahuan di dunia ini yang sifatnya benar 100%. Lah wong ramalan dukun aja masih suka salah kok.

Mungkin langsung kepada kesimpulan saya kenapa Psikotes atau Assessment penting? Karena dengan melakukannya, kita menjadi tahu tentang karakter individu dan juga tentunya diri kita. Dan setahu saya, sepaham dan sehebat kita dalam menganalisa hasil Psikotes orang lain, kita tetap tidak bisa memanipulasi Psikotes tersebut kecuali Psikopat mungkin.

Sebagai penutup, mohon feedback daribyang membaca kalau salah. Karena saya masih bodoh dan terus belajar. Ya kita diskusi aja.

Defence Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri) By Sigmund Freud



Sigmund Freud berpendapat apabila kebutuhan seseorang tidak terpenuhi maka dia akan mempertahankan dirinya. Berikut beberapa istilahnya:

1.      Represi (Repression)
Mekanisme dimana seseorang yang memiliki keinginan2, impuls2 pikiran, kehendak2 yang tidak sesuai dan mengganggu kebutuhan/motivasinya, disingkirkan dari alam sadar dan ditekan ke dalam alam bawah sadar.
Secara tidak sadar seseorang menekan pikiran2 yang tidak sesuai atau menyedihkan keluar dari alam sadar ke alam tak sadar.  Repression yang terus menerus akan menjadi tumpukan kekecewaan sehingga menjadi “kompleks terdesak”
Contoh: seorang pemuda melihat kematian temannya waktu kecelakaan, kemudian “lupa” tentang kejadian tersebut. (lupa ini disebut amnesia yang psikogenik, bila lupa karena gegar otak maka disebut amnesia organik).

2.      Kompensasi (Compensation)
Mekanisme dimana seseorang mengabdikan dirinya kepada mengejar suatu tujuan, dengan usaha yang lebih giat ke dalam usahanya itu untuk mengatasi rasa kekurangan yang sebenarnya atau yang hanya dirasakan saja.
Menutupi kelemahan dengan menonjolkan sifat yang baik atau karena frustrasi dalam suatu bidang, lalu dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang yang lain (kompensasi berlebihan). Kompensasi dilakukan terhadap perasaan kurang mampu (inferior).
Contoh: anak yang tidak pandai di sekolah, menjadi anak jagoan atau ditakuti oleh teman-temannya).

3.      Konversi (Conversion)
Mekanisme dimana konflik emosional memperoleh ekspresi luar melalui manifestasi motorik, sensoris, somatik.
Contoh: saat stress menjadi mudah marah, teriak-teriak, atau berolahraga.

4.      Penyangkalan (Denial)
Proses mekanisme dimana seseorang menghindarkan kenyataan yang menimbulkan sakit dan rasa cemas, dengan secara tidak sadar menyangkal adanya kenyataan, yang disangkal itu mungkin berupa suatu pikiran, keinginan, atau suatu keadaan dan benda. Menyangkal realitas yang menimbulkan rasa takut, sakit, malu, atau cemas.
Contoh: seorang ibu tidak mau menerima bahwa anaknya terbelakang mental sehingga anak tersebut dititipkan pada saudaranya yang jauh.

5.      Memindahkan (Displacement)
Proses mekanisme dimana emosi2 yang tertahan diberikan tujuan yang lain ke arah ide2, objek2, atau orang2 lain daripada ke sumber primer emosi. Luapan emosi terhadap seseorang atau objek dialihkan kepada seseorang atau objek yang lain.
Contoh: seorang anak yang dimarahi ibunya kemudian dia memukul adiknya atau menendang kucingnya.

6.      Disosiasi (Dissociation)
Beban emosi dalam suaatu keadaan yang menyakitkan diputus atau diubah. Mekanisme dimana suatu kumpulan proses2 mental dipisahkan atau diasingkan dari kesadaran dengan bekerja secara merdeka atau otomatis, afek dan emosi terpisah, dan terlepas dari ide, situasi, objek, misalnya pada selektif amnesia.
Contoh: rasa sedih karena kematian seorang kekasih dikurangi dengan mengatakan “sudah nasibnya” atau “sekarang ia sudah tidak menderita lagi”.

7.      Fantasi (Fantasy) atau Khayalan (Image)
Suatu proses melamun (menerawang) atau tindakan berkhayal untuk memberikan pelarian dari kenyataan, dengan kepuasan diperoleh dan pencapaian2 kenikmatan yang bersifat khayal atau mati sebagai pahlawan yang tidak berdosa.
Contoh: seorang anak yang kurang pandai lalu berkhayal dirinya menjadi bintang pelajar.

8.      Identifikasi (Identification)
Suatu mekanisme dimana seseorang mempertinggi harga dirinya dengan mempolakan dirinya serupa dengan orang lain (tabiat2nya meniru orang lain). Menambah rasa harga diri dengan menyamakan harga dirinya seperti seorang atau suatu hal yang dikaguminya.
Contoh: seorang anak yang bersolek atau berdandan seperti ibunya, atau malah bersolek seperti bintang iklan.

9.      Introyeksi (Introjection)
Proses dimana seseorang mengambil ke dalam struktur egonya sendiri, semua atau sebagian dari kepribadiannya sendiri.
Contoh: seorang anak yang membenci seseorang tapi “memasukkan” ke dirinya sendiri, hingga jika ia kesal ke orang tersebut ia akan memukuli dirinya sendiri.

10.  Negativisme (Negativism)
Proses perlawanan yang aktif atau pasif terhadap permintaan2 yang ditujukan kepada seseorang. Negativisme aktif kalau seseorang berbuat kebalikan dari apa yang diminta darinya. Negativisme pasif kalau ia menghindarkan apa yang diharapkan daripadanya.
Contoh: seorang anak yang disekolahkan tidak sesuai dengan minatnya maka ia sering bolos sehingga prestasinya menjadi kurang.

11.  Proyeksi (Projection)
Adalah mekanisme dengan apa seseorang melindungi dirinya dari kesadaran akan tabiat2nya sendiri yang tidak baik, atau perasaan2 dengan menuduhkannya kepada orang lain. Menyalahkan orang lain mengenai kesulitannya sendiri yang tidak baik.
Contoh: seorang murid tidak lulus lalu mengatakan gurunya sentimen kepada dia.

12.  Rasionalisme (Rationalization)
Mekanisme dimana seseorang membenarkan tingkah lakunya yang tidak konsekuen dan tidak baik. Termasuk membenarkan kepercayaan, keterangan, alasan2 (motivasi) dengan memberikan penjelasan dan keterangan baginya. Berusaha untuk membuktikan bahwa perbuatannya (yang sebenarnya tidak baik) dianggap rasional adanya, dapat dibenarkan, dan dapat diterima.
Contoh: seorang anak menolak bermain bulu tangkis dengan temannya karena “kurang enak badan” atau “besok ada ulangan” (padahal takut kalah).

13.  Pembentukan Reaksi (Reaction Formation)
Proses dimana seseorang mengambil kedalam struktur egonya sendiri, semua atau sebagian dari suatu objek, yang kemudian dianggap sebagai suatu unsur dari kepribadiannya sendiri. Supaya tidak menuruti keinginannya yang jelek, maka sebagai penghalang diambil sikap atau perilaku yang sebaliknya.
Contoh: seorang mahasiswa yang bersikap hormat secara berlebihan terhadap dosen yang sebenarnya tidak ia suka.

14.  Regresi (Regression)
Keadaan dimana seseorang kembali ke tingkat yang lebih awal dan kurang matang dalam adaptasi. Bentuknya yang ekstrim adalah tingkah laku infantile (kekanak-kanakan). Keadaan seorang yang kembali ke tingkat perkembangan yang sebelumya dan kurang matang dalam adaptasi.
Contoh: seorang anak yang sudah tidak ngompol, mendadak ngompol lagi karena cemas mau masuk sekolah atau mulai menghisap jempol lagi setelah ia memiliki adik.karena merasa perhatian ibunya terhadap dirinya berkurang.

15.  Sublimasi (Sublimation)
Proses dengan apa kehendak2 tidak sadar dan tidak dapat diterima, disalurkan menjadi aktivitas yang memiliki nilai sosial yang tinggi. Dorongan atau kehendak2 yang tidak dapat disalurkan menjadi aktivitas yang memiliki nilai sosial.
Contoh: seseorang tidak suka berkelahi kemudian ia menjadi atlet petinju.

16.  Menghapuskan (Undoing)
Mekanisme dimana seseorang secara simbolis melakukan kebalikan sesuatu yang telah dikerjakannya, atau pikiran yang tidak dapat diterima oleh egonya dan masyarakat. Dia secara simbolis menghapus pikiran, perasaan, atau keinginan yang tidak dapat diterima egonya atau masyarakat.
Contoh: seorang suami yang berselingkuh lalu ia memberi bermacam-macam hadiah kepada istrinya.

17.  Simpatisme
Berusaha mendapatkan simpati dengan jalan menceritakan berbagai kesukarannya, misalnya penyakit atau kesulitan2 lainnya. Bila ada yang menyatakan simpati kepadanya maka rasa harga dirinya diperkuat, biarpun ada kegagalan.
Contoh: seorang siswa yang mengeluh bahwa dia tidak mempunyai buku2 pelajaran karena orangtuanya miskin dan tidak bisa membelikannya, lagipula ibunya sakit2an.
 
Sumber: http://chessireworld.blogspot.com/2011/10/defence-mechanism-mekanisme-pertahanan.html

Jumat, 21 Februari 2014

Miris Sama Beberapa Junior Saya

Miris dengan junior saya yang baru-baru lulus karena ternyata mereka gak tahu dengan alat tes psikologi, gak pernah ikut seminar, ataupun pengalaman dibiro psikologi. Atau mungkin yang pernah ikut seminar, biro dan mengerti alat tes psikologi sudah kerja semua ya? Kenapa saya bisa bilang begitu karena saya mendapati yang melamar dikantor saya kerja seperti itu semua.

Semoga ini jadi pelajaran temen-temen semua. Amin...

Selasa, 18 Februari 2014

Mobil Polisi Warna Orange

Pagi ini 19 Februari 2014 waktu jalan berangkat kerja bareng istri, tiba-tiba ada pertanyaan menarik ke saya yang menanyakan tentang bedanya mobil polisi berwarna orange dengan mobil polisi yang biasa berwarna putih dan biru. Lalu saya pun bilang tidak tahu, tapi sebelum istri saya bertanya ini sebenarnya saya sudah punya pertanyaan yang sama tapi memang karena ketidak pedulian saya, maka saya enggan atau tepatnya malas mencari tahu. Dan kata teman kantor itu polisi pariwisata atau khusus untuk orang-orang ekspatriat dan katanya biasanya harus jago bahasa inggris. Dan menurut logika saya bener juga sih, soalnya tulisan di mobilnya bukan polisi tapi police. Untuk lebih jelasnya nanti ane coba cari-cari info lagi.

Mungkin segini dulu postingan pertama saya di blog yang dah lama saya bikin. Terima kasih...